Pertemuan ke-15 ASEAN+3 FETN, Perkuat Kolaborasi Sistem Surveilans Deteksi Dini Kedaruratan Kesehatan di Kawasan

bagikan artikel ini :

Jakarta, 27 November 2025 —  Indonesia secara resmi menjadi tuan rumah The 15th ASEAN Plus Three Field Epidemiology Training Network (ASEAN+3 FETN) Steering Committee Meeting yang digelar di Hotel Grand Platinum Jakarta, pada 27 – 28 November 2025.

Pertemuan tahunan ini mempertemukan para ahli epidemiologi lapangan dan pakar kesehatan masyarakat dari seluruh negara ASEAN, Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan untuk memperkuat kesiapsiagaan dan keamanan kesehatan regional.

Dalam sambutannya, Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan  Kementerian Kesehatan RI, Dr. Sumarjaya, SKM, M.M., MFP, C.F.A selaku Chair ASEAN+3 FETN tahun 2025, menyampaikan kehormatan Indonesia menjadi tuan rumah forum strategis ini. Ia menegaskan bahwa pertemuan tersebut menjadi wadah penting untuk memperkuat kerja sama lintas negara dalam menghadapi ancaman kesehatan di kawasan.

“Kami menyambut hangat seluruh delegasi yang hadir dalam forum ini. Ini adalah kesempatan besar bagi kita untuk memperkuat solidaritas dan memperkuat keamanan kesehatan di kawasan ASEAN+3,” ujarnya.

Salah satu momen penting pada pembukaan adalah penyambutan resmi Timor-Leste sebagai bagian dari komunitas kesehatan masyarakat dan epidemiologi regional. Keikutsertaan Timor-Leste dinilai sebagai langkah signifikan dalam memperkuat jejaring surveilans dan respons wabah di Asia Tenggara.

Dikesempatannya, Direktur Sumarjaya menekankan bahwa ASEAN+3 FETN telah menjadi platform vital dalam memperkuat kapasitas epidemiologi lapangan, berbagi informasi lintas negara, serta meningkatkan kemampuan respons terhadap kejadian luar biasa (KLB) dan kedaruratan kesehatan masyarakat.

“Selama bertahun-tahun, jaringan ini berperan besar dalam membangun kapasitas, memperkuat respons wabah, dan memastikan pertukaran informasi yang cepat di antara negara-negara anggota,” jelasnya.

Pertemuan tahun ini mengangkat tema “Strengthening Multi-Source Collaborative Surveillance for Early Detection and Risk Assessment in the ASEAN+3 Region.” Tema tersebut menyoroti semakin pentingnya integrasi berbagai sumber data mulai dari kesehatan manusia, hewan, lingkungan, hingga surveilans digital untuk mendukung deteksi dini dan penilaian risiko yang lebih akurat.

Menurut Direktur Sumarjaya, tantangan penyakit infeksi baru, risiko kesehatan terkait perubahan iklim, serta pembelajaran dari pandemi global menuntut negara-negara ASEAN+3 untuk semakin memperkuat kolaborasi.

“Tidak ada negara yang bisa menghadapi tantangan ini sendirian. Kekuatan kita justru terletak pada kolaborasi, solidaritas, dan pembelajaran yang berkelanjutan,” tegasnya.

Dalam pertemuan ini juga dibahas dua agenda utama, antara lain Pertama, meninjau implementasi Rencana Kerja ASEAN+3 FETN 2021–2025, termasuk berbagai capaian dalam penguatan tenaga epidemiologi lapangan, pelaksanaan pelatihan data science, dan koordinasi respons KLB. Kedua, memfinalisasi Rencana Kerja ASEAN+3 FETN Pasca-2025 (2026–2030) yang berfokus pada tiga strategi besar, antara lain penguatan tenaga epidemiologi lapangan di tingkat nasional, penguatan kerja sama multisektoral dan One Health, serta penguatan mekanisme regional dan resource pools untuk dukungan teknis lintas negara.

Diakhir sambutannya Direktur Sumarjaya menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada seluruh anggota Steering Committee, mitra pembangunan, dan program FETP dari seluruh negara yang telah berkontribusi aktif dalam penguatan jejaring.

“Dedikasi anda semua memastikan bahwa ASEAN+3 FETN tetap menjadi pilar penting keamanan kesehatan di kawasan,” katanya.(ADT)