JAKARTA, 1 NOVEMBER 2026 – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) bekerja sama dengan Yayasan Stroke Indonesia (YASTROKI) menggelar rangkaian peringatan World Stroke Day 2026 bertema “Time Is Now” di Kantor Kemenkes RI, Kuningan, Jakarta, Minggu (1/11/2026). Kegiatan yang terdiri dari 3K Fun Walk dan Seminar Awam Hybrid ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat serta menggalang komitmen menuju Indonesia dan Jakarta yang ramah terhadap stroke.

Rangkaian acara diawali pada pagi hari dengan kegiatan YASTROKI 3K Fun Walk yang diikuti oleh sekitar 1.000 hingga 1.200 peserta dengan rute mengelilingi kawasan sekitar kantor Kemenkes. Acara dilanjutkan dengan aksi simbolis “MOVE FOR STROKE”, penandatanganan komitmen, serta sesi konferensi pers oleh Ketua Umum YASTROKI. Stroke Masih Menjadi Tantangan Kesehatan Nasional.
Acara kemudian berlanjut ke Ruang Siwabessy, Gedung Prof. Sujudi Lantai 2 Kemenkes RI, untuk pelaksanaan Seminar Awam bertajuk “Menuju Indonesia Ramah Stroke: Siapkah Jakarta Menjadi Kota Ramah Stroke?”. Dalam sambutannya, Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM) Kemenkes RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, menekankan bahwa stroke masih menjadi salah satu tantangan terbesar kesehatan masyarakat di Indonesia. “Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi stroke mencapai 8,3 per 1.000 penduduk usia 15 tahun ke atas. Artinya, dari 1.000 orang dewasa, sekitar delapan orang hidup dengan stroke, menjadikannya salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan nasional,” ujar dr. Siti Nadia. Beliau menambahkan bahwa hipertensi merupakan salah satu pemicu utama stroke. Data SKI 2023 menunjukkan prevalensi hipertensi pada usia 18 tahun ke atas mencapai 30,8 persen berdasarkan pengukuran tekanan darah, namun baru 8,6 persen yang terdiagnosis oleh dokter. Hal ini menunjukkan masih banyak masyarakat yang tidak menyadari bahwa mereka berisiko tinggi terkena stroke.

Direktur PTM Kemenkes menyegarkan kembali prinsip penanganan stroke, yaitu “Waktu Adalah Otak”. Masyarakat diimbau untuk segera mengenali gejala awal stroke—seperti wajah mencong, lengan atau tungkai lemas sebelah, bicara pelo, hingga gangguan penglihatan—dan langsung membawa korban ke fasilitas kesehatan terdekat yang memadai. Konsep Kota Ramah Stroke tidak hanya berfokus pada kesiapan fasilitas rumah sakit dan armada ambulans, tetapi juga mencakup: Kesadaran masyarakat dalam mengenali gejala dini. Lingkungan kota yang mendukung aktivitas fisik dan gaya hidup sehat. Layanan kegawatdaruratan yang cepat dan terpadu. Ruang inklusif bagi para penyintas stroke untuk terus berkarya dan bergerak.
Kemenkes mengapresiasi kesiapan Pusat Pelayanan Kesehatan Darurat (PK3D) Dinas Kesehatan DKI Jakarta dalam penanganan transportasi kasus stroke emergensi. Selain itu, Kemenkes terus memperkuat deteksi dini di Posyandu dan Posbindu PTM serta pengelolaan hipertensi dan diabetes di Puskesmas. Edukasi Kesehatan dan Inspirasi dari Penyintas. Seminar awam menghadirkan sejumlah narasumber ahli untuk memberikan pemaparan komprehensif dari hulu ke hilir: dr. Sulung Mulia Putra, MPH: Memaparkan kesiapan sistem transportasi emergensi stroke PK3D DKI Jakarta., dr. Zicky Yombana, Sp.S: Mengangkat topik “Sebelum Stroke Mengetuk Pintu” mengenai pencegahan dan gaya hidup sehat., dr. Wahyudi, Sp.KFR: Membahas peran rehabilitasi medis sebelum, saat, dan sesudah serangan stroke., dr. Inggrid Tania, M.Si.: Menjelaskan pemanfaatan herbal yang aman untuk mendukung kondisi pasien stroke.

Selain pemaparan medis, acara juga diisi dengan sesi Motivation and Stand-up Comedy yang dibawakan oleh penyintas stroke (strokers), Komarudin Rachmat dan Laudrik Laurika. Sesi ini membuktikan bahwa harapan, semangat, serta tawa menjadi bagian penting dalam proses pemulihan pasien. Acara ditutup dengan imbauan bersama agar seluruh masyarakat aktif memeriksa tekanan darah, gula darah, dan kolesterol secara rutin, serta menerapkan pola hidup sehat guna mencegah stroke sejak dini. (GRR&CLYS)




