Kemenkes Integrasikan Skrining dan Deteksi Dini Penyakit Hati Melalui Program CKG

bagikan artikel ini :

Kementerian Kesehatan RI perkuat upaya pencegahan dan pengendalian penyakit hati kronis melalui skrining dan deteksi dini di masyarakat. Upaya ini dilakukan melalui kegiatan Healthy Liver Awareness 2026 bertema “Solid Habit, Strong Liver” yang diselenggarakan di Aula Siwabessy, Gedung Prof. Dr. Sujudi, Jakarta, Selasa (2/6).

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga kesehatan hati melalui penerapan gaya hidup sehat dan perilaku pencegahan yang berkelanjutan. Acara tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Liver Sedunia yang diperingati setiap 19 April, Hari Fatty Liver Sedunia pada 12 Juni, serta Hari Hepatitis Sedunia setiap 28 Juli.

Penyakit hati masih menjadi tantangan kesehatan serius baik secara global maupun nasional. Penyakit perlemakan hati (fatty liver), hepatitis, sirosis, hingga kanker hati menjadi penyebab morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Secara global, penyakit hati kronis menyebabkan sekitar 2 juta kematian setiap tahun, dan lebih dari separuh kematian tersebut berkaitan dengan infeksi Hepatitis B dan Hepatitis C yang sering kali tidak terdeteksi hingga memasuki stadium lanjut.

Di Indonesia sendiri, penyakit hati kronis diperkirakan dialami oleh sekitar 70 juta penduduk. Selain memberikan dampak kesehatan yang besar, penyakit hati juga berdampak signifikan terhadap pembiayaan kesehatan nasional. Analisis belanja Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menunjukkan adanya peningkatan pembiayaan yang substansial pada penanganan penyakit hati dari tahun 2019 hingga 2025.

Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin, mengatakan bahwa penyakit hati merupakan ancaman serius karena berkembang perlahan tanpa gejala yang jelas. Akibatnya, banyak pasien baru mengetahui kondisinya ketika sudah mengalami sirosis atau kanker hati.

“Penyakit hati kronis memiliki prevalensi yang tinggi. Karena itu kita harus memperkuat strategi promotif dan preventif. Kerja di area pencegahan jauh lebih murah dan memberikan kualitas hidup yang lebih baik dibandingkan pengobatan pada tahap lanjut,” kata Menkes Budi.

Menkes menekankan bahwa deteksi dini menjadi kunci untuk mencegah penyakit berkembang menjadi kondisi yang lebih berat. Saat ini, cakupan skrining hepatitis di Indonesia diperkirakan baru mencapai sekitar 10 persen, masih jauh dari target World Health Organization yang menargetkan 90 persen kasus hepatitis terdeteksi dan 80 persen mendapatkan pengobatan.

“Jangan merasa sehat lalu tidak mau diperiksa. Banyak penyakit kronis, termasuk penyakit hati, berkembang tanpa gejala selama bertahun-tahun. Ketika gejala muncul, sering kali penyakit sudah berada pada tahap lanjut,” ujarnya.

Sebagai bagian dari penguatan upaya promotif dan preventif, skrining penyakit hati kini telah diintegrasikan ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Pemeriksaan meliputi deteksi Hepatitis B melalui HBsAg serta penilaian fibrosis hati menggunakan metode APRI berbasis pemeriksaan darah.

Pemerintah juga terus memperkuat langkah pencegahan melalui imunisasi Hepatitis B bagi tenaga kesehatan, pemberian profilaksis antivirus bagi ibu hamil dengan Hepatitis B untuk mencegah penularan kepada bayi, serta penerapan kebijakan Nutri-Level mulai tahun 2026 guna membantu masyarakat mengendalikan konsumsi gula, garam, dan lemak yang menjadi faktor risiko penyakit hati akibat gangguan metabolik.

Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), Prof. dr. David Handojo Muljono, mengatakan bahwa banyak kasus Hepatitis B kronis tidak terdeteksi karena berlangsung tanpa gejala. Oleh karena itu, perluasan akses skrining dan pengobatan di layanan kesehatan primer menjadi sangat penting untuk mencegah penyakit berkembang menjadi sirosis maupun kanker hati.

Sementara itu, Plt. Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (Dirjen P2) Kementerian Kesehatan, dr. Andi Saguni, MA mengatakan bahwa kegiatan Healthy Liver Awareness for Indonesia bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan hati melalui gaya hidup sehat dan pemeriksaan rutin.

“Melalui kegiatan ini kami juga menyediakan layanan skrining kesehatan hati berupa pemeriksaan HBsAg, anti-HCV, penilaian skor APRI, dan FibroScan. Kami berharap kegiatan ini dapat meningkatkan literasi masyarakat sekaligus memperkuat deteksi dini penyakit hati,” ujar Plt. Dirjen Andi.

Selain dialog bersama Menteri Kesehatan dan para ahli, kegiatan ini juga menjadi ruang diskusi terkait tantangan dan keterbatasan skrining hati di tingkat layanan primer, tatalaksana lanjutan pasca skrining, hingga penguatan literasi kesehatan hati melalui media elektronik.

Kegiatan Healthy Liver Awareness 2026 dihadiri secara luring oleh sekitar 100 peserta yang terdiri atas perwakilan media dan komunitas peduli penyakit hati. Selain itu, kegiatan juga disiarkan melalui kanal daring yang diikuti pengelola program Penyakit Tidak Menular (PTM) dari Dinas Kesehatan, Puskesmas, dan kader kesehatan di berbagai daerah.

Kementerian Kesehatan mengajak masyarakat untuk memanfaatkan layanan Cek Kesehatan Gratis di fasilitas kesehatan tingkat pertama dan menjadikannya sebagai kebiasaan tahunan dalam menjaga kesehatan. Dengan deteksi lebih dini, peluang sembuh dan kualitas hidup masyarakat akan jauh lebih baik. (ADT/BG)