Jakarta, 28 Juli 2026 – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia memperingati Hari Hepatitis Sedunia (HHS) ke-17 melalui Webinar Nasional bertema “Deteksi Hepatitis Sedini Mungkin, Putuskan Rantai Penularan”. Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan dalam mewujudkan eliminasi hepatitis di Indonesia pada tahun 2030 melalui peningkatan deteksi dini, perluasan akses layanan, dan penguatan kolaborasi lintas sektor.
Dalam laporannya, Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit, dr. Andi Saguni, M.A., menyampaikan bahwa Indonesia memiliki peran penting dalam pengendalian hepatitis di tingkat global. Bersama Brasil dan Kolombia, Indonesia menjadi salah satu penggagas Resolusi Hepatitis Virus pada World Health Assembly (WHA) ke-63 tahun 2010 yang menetapkan tanggal 28 Juli sebagai Hari Hepatitis Sedunia.

Mengusung tema nasional “Perluas Akses, Perkuat Kolaborasi, Wujudkan Eliminasi Hepatitis”, peringatan HHS 2026 menekankan pentingnya pemerataan akses terhadap layanan pencegahan, deteksi dini, diagnosis, dan pengobatan hepatitis. Rangkaian kegiatan meliputi temu media, penilaian kabupaten/kota terbaik dalam penanggulangan hepatitis, seminar ilmiah bersama Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI), pemeriksaan deteksi dini penyakit hati, kampanye edukasi di berbagai daerah, serta webinar nasional bagi tenaga kesehatan.
Webinar dibuka dengan sambutan dr. Andi Saguni, M.A., dilanjutkan keynote speech oleh Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin. Sesi ilmiah menghadirkan Dr. dr. Andri Sanityoso Suliaman, SpPD-KGEH, FINASIM dari PPHI yang membahas perkembangan deteksi dan tata laksana hepatitis, serta Prof. Dr. dr. Bagus Setyoboedi, Sp.A., Subsps. GI(H) (K) dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang memaparkan pentingnya pencegahan hepatitis sejak usia dini. Diskusi dipandu dr. Masitah Sari Dewi, M.Epid, sementara acara dipandu oleh Hari Wibowo selaku MC.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menekankan bahwa percepatan eliminasi hepatitis harus dimulai dari peningkatan deteksi dini. Menurutnya, Program Cek Kesehatan Gratis perlu dimanfaatkan secara optimal sebagai pintu masuk skrining hepatitis B dan hepatitis C di masyarakat.”Kita sudah memiliki program yang namanya Cek Kesehatan Gratis. Saya ingin memastikan hepatitis B dan hepatitis C juga sudah masuk disana. Saya minta dilaporkan secara khusus bagaimana perkembangan skrining hepatitis B dan hepatitis C di masyarakat,” ujar Menkes.

Menkes membandingkan pendekatan tersebut dengan keberhasilan program penanggulangan tuberkulosis (TB) yang selama ini telah dilaksanakan hingga tingkat puskesmas. Menurutnya, pendekatan serupa perlu diterapkan dalam program eliminasi hepatitis agar pelayanan menjadi lebih efisien dan menjangkau lebih banyak pasien. Selain itu, Menkes juga menyoroti tingginya harga obat hepatitis di Indonesia yang masih mencapai dua hingga tiga kali lebih mahal dibandingkan harga acuan internasional. Ia meminta agar dilakukan evaluasi terhadap sistem pengadaan obat sehingga pembiayaan program dapat berlangsung lebih efektif tanpa mengurangi mutu pelayanan.
Melalui penguatan skrining melalui Program Cek Kesehatan Gratis, perluasan layanan pengobatan hingga puskesmas, peningkatan akses terhadap obat-obatan, serta kolaborasi lintas sektor, Kementerian Kesehatan optimistis target eliminasi hepatitis pada tahun 2030 dapat tercapai. Momentum Hari Hepatitis Sedunia 2026 diharapkan semakin memperkuat komitmen seluruh pemangku kepentingan untuk menghadirkan layanan hepatitis yang lebih mudah diakses, berkualitas, dan merata bagi seluruh masyarakat Indonesia.(SSH)





