JOMBANG, 21 Agustus 2026 — Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus memperkuat upaya penemuan dini kasus tuberkulosis (TB) dengan mendatangi langsung kelompok masyarakat yang berada di lingkungan padat, termasuk pondok pesantren. Salah satu pelaksanaan skrining tersebut dilakukan di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, pada 19–20 Agustus 2026. Kegiatan tersebut mengintegrasikan skrining TB menggunakan rontgen dada portabel dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Sasaran kegiatan mencapai 2.678 orang yang terdiri atas santri, pengasuh, ustaz dan ustazah, petugas, serta komunitas pesantren.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin turut meninjau pelaksanaan skrining di SMA A Wahid Hasyim Pondok Pesantren Tebuireng pada Kamis (20/8/2026). Pemeriksaan menggunakan perangkat X-ray portabel yang memungkinkan skrining dilakukan langsung di lingkungan pesantren. Menkes mengatakan, TB masih menjadi persoalan kesehatan serius karena banyak kasus terlambat ditemukan. Padahal, pengobatan untuk TB telah tersedia. “Obat untuk TBC sebenarnya tersedia. Persoalannya, banyak penderita baru diketahui ketika kondisinya sudah terlambat ditangani. Karena itu, skrining menjadi penting untuk menemukan kasus lebih awal.”

Dari pelaksanaan skrining di Tebuireng, sebanyak 26 orang ditemukan terindikasi TB dan masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut serta pengobatan. Temuan tersebut tidak dianggap sebagai sesuatu yang harus ditakuti, melainkan sebagai kesempatan untuk menemukan penyakit lebih awal agar dapat segera ditangani. Menkes menegaskan bahwa ditemukannya kasus TB justru merupakan langkah positif karena pasien dapat segera memperoleh pengobatan dan penularan dapat ditekan. “Kalau ada TBC, bukan berarti sekolahnya jelek. Justru kalau ditemukan, itu bagus karena bisa segera diobati sehingga penularannya dapat dihentikan.”
Program skrining TB di Tebuireng menjadi bagian dari strategi Kemenkes untuk melakukan deteksi aktif dengan mendatangi masyarakat, terutama kelompok yang memiliki risiko penularan lebih tinggi. Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, dr. Andi Saguni, menekankan pentingnya pendekatan jemput bola dalam penanggulangan TB. Pelaksanaan kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak. Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur mendukung koordinasi tingkat provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang mengoordinasikan pelaksanaan di daerah, rumah sakit mendukung pemeriksaan rontgen, Puskesmas memastikan pelayanan dan tindak lanjut, sementara pengasuh dan pengelola Pondok Pesantren Tebuireng menjadi mitra utama dalam mobilisasi dan edukasi komunitas pesantren.
Perwakilan Pengasuh PP Tebuireng, Lelly Lailliya menyampaikan terima kasih kepada Kemenkes yang membantu memutus penularan TBC melalui skrining gratis. Terkait 26 santri yang terdeteksi mengidap TBC, ia mengimbau santri lainnya tak khawatir tertular. Sebab para santri yang terjangkit TBC bakal diberi obat gratis selama 1-3 bulan.
“Jadi, tidak boleh teman-temannya itu diisolasi atau dijauhi, tetapi sama-sama cuma teman-temannya nanti pakai masker. Jadi itu harap dimaklumi, karena kita sudah mengalami itu pada saat kemarin kita semua pada pakai masker yaitu pada saat pandemi,” ungkapnya.

Tebuireng diharapkan menjadi salah satu titik awal perluasan gerakan skrining TB dan CKG ke pesantren-pesantren lainnya di Indonesia. Semangat yang dibawa adalah menemukan penyakit lebih awal, memberikan pengobatan lebih cepat, dan mencegah penularan. Dengan pendekatan tersebut, pemerintah berharap upaya pengendalian TB tidak hanya berlangsung di fasilitas kesehatan, tetapi juga hadir langsung di tengah masyarakat. (SSH/CRP)




