BALI — Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Budi Gunadi Sadikin, memaparkan langkah-langkah konkret serta strategi nasional Indonesia dalam mengakselerasi penanggulangan Tuberkulosis (TB) untuk mencapai target eliminasi pada tahun 2030. Hal tersebut disampaikannya saat memberikan sambutan pembuka pada 40th Stop TB Partnership Board Meeting 2026 yang berlangsung di Bali.

Dalam sambutannya, Menkes menekankan pentingnya komitmen yang berorientasi pada aksi nyata. Ia menyampaikan bahwa Indonesia telah memulai program penapisan TB terbaru dengan penguatan fasilitas diagnostik secara masif hingga ke tingkat pelayanan kesehatan primer di 7.000 pulau huni untuk melayani 290 juta penduduk Indonesia.
“Pada akhirnya, karena kita memiliki target pada tahun 2030, sangat penting bagi kita untuk berdiskusi dan berfokus pada sesuatu yang didorong oleh aksi nyata. Karena terlalu banyak diskusi terkadang membuat kita lupa akan tindakan yang perlu kita lakukan.” ujar Menkes Budi Gunadi Sadikin, pada (5/11).
Penguatan Infrastruktur Diagnostik dan Biaya Tes
Menkes menjelaskan bahwa pada tahun 2026 ini, Indonesia mengadakan sekitar 4.000 mesin diagnostik molekuler near point of care (NPOC). Jumlah tersebut akan ditingkatkan hingga mencapai 10.600 unit untuk didistribusikan ke puskesmas-puskesmas di seluruh penjuru Nusantara.

Berkat dukungan Global Fund, biaya tes per pemeriksaan saat ini berhasil diturunkan menjadi 3,6 dollar AS dan ditargetkan turun lebih jauh hingga di bawah 3 dollar AS mulai tahun 2027. Selain mesin molekuler, pemerintah juga mengintegrasikan teknologi X-ray berteknologi Kecerdasan Buatan (AI). Sebanyak 800 unit X-ray portabel dan mobile telah dipasang tahun ini, diikuti 4.000 unit tambahan tahun depan, serta ditargetkan mencapai 10.000 titik layanan pada tahun 2028. Targetnya, fasilitas ini mampu melakukan penapisan hingga 10 juta orang untuk mendeteksi kasus TB aktif secara dini.
Pengembangan Vaksin M72 dan Pengobatan Terbaru
Di sektor pencegahan dan terapi, Indonesia menjadi salah satu dari 5 negara yang ditunjuk sebagai lokasi uji klinis tahap 3 untuk vaksin TBC M72. Menkes mengungkapkan bahwa progres uji klinis di Indonesia berjalan sangat baik. Persiapan produksi vaksin M72 pun sudah mulai dilakukan dan ditargetkan siap serta tersedia pada tahun 2029.

Sementara dari sisi pengobatan, Indonesia terus berkolaborasi dengan TB Alliance untuk menyelenggarakan uji klinis tahap 3 bagi obat TB baru, yaitu Sorfequiline. Inovasi ini diharapkan mampu memangkas durasi pengobatan TB secara signifikan, dari yang semula memakan waktu 4–6 bulan menjadi hanya 1 bulan saja. Langkah ini melengkapi keberhasilan penerapan rejimen BPaL (Bedaquiline, Pretomanid, Linezolid) dan BPaLM ( Bedaquiline, Pretomanid, Linezolid, Moxifloxacin) yang telah diterapkan sejak tahun 2022.
Percepatan Penanggulangan TB Melalui Quick Win TB
Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit (P2) Kementerian Kesehatan RI, dr. Andi Saguni, M.A., dikesempatan yang sama menegaskan Indonesia terus memperkuat komitmen dan langkah strategis dalam mempercepat eliminasi Tuberkulosis (TB) selambat-lambatnya pada tahun 2030

Dalam pemaparannya, beliau menyampaikan bahwa Presiden Prabowo menempatkan percepatan penanggulangan TB sebagai salah satu prioritas utama pemerintah melalui inisiatif Quick Win TB. Komitmen tersebut ditargetkan dapat menurunkan angka insidensi TB hingga 50% pada tahun 2029.
“Mencapai eliminasi TB pada tahun 2030 adalah prioritas nasional dan komitmen kuat dari Pemerintah Indonesia. Presiden Prabowo telah menempatkan percepatan pengendalian TB di antara prioritas nasional Pemerintah melalui inisiatif Quick Win TB,” ujar dr. Andi Saguni.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah mengimplementasikan enam strategi nasional utama, yang meliputi:
- Penguatan Komitmen Pemerintahan: Memperkuat peran pemerintah dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga desa.
- Peningkatan Akses dan Mutu Layanan: Memperluas jangkauan deteksi dini melalui distribusi 1.114 unit portable X-ray, penggunaan teknologi diagnostik molekuler Near Point of Care (NPOC), penelusuran kontak aktif, serta penerapan layanan terintegrasi One Stop Service di Puskesmas.
- Pengembangan Pencegahan dan Pengobatan: Memperluas Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT), penerapan regimen pengobatan jangka pendek BPaL/M untuk TB Resisten Obat (DR-TB), serta mendukung riset dan uji klinis vaksin TB.
- Pemberdayaan Masyarakat: Meningkatkan keterlibatan masyarakat melalui kampanye multimedia dan peran aktif kader kesehatan.
- Alokasi Sumber Daya Strategis: Memobilisasi pembiayaan domestik yang berkelanjutan dan terarah pada wilayah dengan beban kasus tinggi.
- Penguatan Integrasi Data dan Inovasi: Memanfaatkan teknologi digital yang terintegrasi dengan platform SATU SEHAT serta pemanfaatan riset berbasis kecerdasan buatan (AI-powered screening).

Pemerintah juga menekankan bahwa eliminasi TB tidak dapat dicapai hanya melalui sektor kesehatan saja, melainkan membutuhkan keterlibatan lintas sektor secara menyeluruh, termasuk perbaikan kualitas hunian bagi pasien TB dari keluarga prasejahtera, demi mewujudkan masa depan Indonesia yang bebas dari Tuberkulosis. (ADT/CRP)




