Kemenkes Gelar 13 th NSCE: Perkuat Surveilans Kolaboratif Multisektor dan Sinergi One Health demi Ketahanan Kesehatan Global

bagikan artikel ini :

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) melalui Direktorat Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan, Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit (P2), bekerja sama dengan US CDC Indonesia, menyelenggarakan Pertemuan Ilmiah Epidemiologi Nasional ke-13 atau 13th National Scientific Conference on Epidemiology (NSCE). Kegiatan yang mengusung tema “Future Epidemiology: Accelerating Multi-Source Surveillance and Synergizing One Health for Global Health Resilience“, berlangsung selama empat hari, mulai 4 hingga 7 Agustus 2026 di Hotel Aston Jakarta.

Pertemuan ilmiah tahunan ini bertujuan memperkuat transformasi surveilans kesehatan masyarakat melalui integrasi berbagai sumber data, penguatan kolaborasi lintas sektor, serta penerapan pendekatan One Health dalam menghadapi ancaman penyakit infeksi baru, zoonosis, resistensi antimikroba, hingga dampak perubahan iklim, bencana, hingga tingginya mobilitas penduduk yang mempercepat penyebaran risiko kesehatan lintas wilayah dan lintas negara.

Dalam sambutan pembukaan (5/8/2026), Plt. Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI dr. Andi Saguni, MA menegaskan pentingnya sistem surveilans yang responsif dan terintegrasi.

“Dunia sedang menghadapi tantangan kesehatan yang semakin kompleks. Kondisi ini menuntut sistem surveilans yang tidak hanya cepat mendeteksi kejadian luar biasa, tetapi juga mampu melakukan analisis risiko komprehensif sebagai dasar pengambilan keputusan yang tepat dan berbasis bukti,” tegasnya.

Hal senada disampaikan oleh Kasie Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta dr. Budi Setiawan, M.Epid. Pihaknya menekankan bahwa forum ilmiah ini menjadi sarana krusial bagi pemerintah daerah untuk menyerap riset dan analisis terbaik dari para akademisi dan peneliti.

“Bagi kami di tingkat pemerintah, kegiatan ilmiah seperti ini adalah ajang untuk menyerap hasil analisis para akademisi. Di DKI Jakarta, banyak kebijakan kesehatan yang dilandasi oleh analisis riset akademisi. Kami berharap sinergi ini terus menghasilkan rekomendasi berbasis bukti bagi para pembuat kebijakan,” ujarnya.

Sejalan dengan sasaran Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 untuk meningkatkan persentase kabupaten/kota yang mampu mengendalikan Kejadian Luar Biasa (KLB) secara efektif, Kemenkes RI terus mempercepat perluasan Field Epidemiology Training Program (FETP).

Direktur Surveilans dan Kekarantinaan Kesehatan (SKK) Kemenkes RI, Dr. Sumarjaya, mengungkapkan bahwa Kemenkes berkomitmen memastikan setiap Puskesmas di Indonesia memiliki tenaga surveilans yang terlatih dan kompeten.

“Sesuai arahan Bapak Menteri Kesehatan, agar setiap puskesmas memiliki tenaga Surveilans yang terlatih dan kompeten. Pada tahun 2026 penyelenggaraan pelatihan FETP diperluas dari 1 menjadi 4 Balai Pelatihan Kesehatan (BBPK Ciloto, Bapelkes Mataram, Bapelkes Batam, dan Bapelkes Cikarang). Target kami ke depan, seluruh Bapelkes di Indonesia dapat menyelenggarakan program FETP sehingga semakin banyak epidemiologi lapangan yang kompeten dan tersebar di seluruh Indonesia sampai level puskesmas ,” jelasnya.

Rangkaian Acara dan Karya Ilmiah Strategis

Rangkaian kegiatan diawali dengan simposium pra-konferensi bertajuk “Where Insight Meets Action: Shaping the Future of Global Health Security”. Sesi utama dilanjutkan dengan tiga Plenary Session yang membahas Multisectoral Collaborative Surveillance (Penguatan surveilans kolaboratif lintas sektor), One Health in Action (Aksi nyata integrasi kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan), dan Future Epidemiology (Arah dan tantangan epidemiologi masa depan).


    13th NSCE diikuti oleh 246 peserta lintas sektor, termasuk kementerian/lembaga (Kemenko PMK, Kementan, KLH, Bappenas, BRIN, BIN, TNI/Polri), perwakilan 7 universitas penyelenggara FETP (UI, UGM, UNAIR, UNUD, UNHAS, UNDIP, UNAND), Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI), alumni FETP (jenjang Frontline, Intermediate, dan Advanced), serta pakar internasional dari US CDC Atlanta, FETP Singapura, dan FETP Thailand.

    Selain diskusi panel, digelar pula Specialization Session yang menampilkan pengalaman dan praktek baik dari Alumni FETP, FETP National Night dan Special Presentations serta pameran karya ilmiah yang menampilkan 12 presenter oral dan 38 presenter poster dari mahasiswa, peserta, dan alumni FETP. Panitia turut memberikan penghargaan kepada juara 1, 2, dan 3 untuk mendorong para peneliti muda melaju ke ajang kompetisi regional dan global. Untuk juara presenter oral terbaik juara 3 (Widya Inayah, FETP UI), juara 2 (Moch.Thoriq, FETP UGM), juara 1(Denis Oxy, FETP UGM). Sedangkan juara presenter poster terbaik juara 3 (Siska Rohman, FETP Intermediate-BBPK Ciloto), juara 2 (Lisandy Yunita, FETP UGM), juara 1 (Nyai Harifah, FETP UGM).

    Melalui dukungan hibah Cooperative Agreement dari US CDC Tahun Anggaran 2026, penyelenggaraan 13 th NSCE ini diharapkan menjadi pendorong utama dalam mewujudkan ketahanan kesehatan nasional dan global yang tangguh, terintegrasi, serta berbasis data yang akurat. (ADT/BG)